Tampilkan postingan dengan label BAHASA INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BAHASA INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Kamis, 19 September 2019
Kriiing….kriiing, bel berbunyi tanda jam pelajaran
pertama akan segera dimulai. Anak-anak 9B sudah duduk rapi di bangku
masing-masing. Jam pelajaran pertama adalah matematika, Pak Udin berjalan di
koridor sekolah menuju kelas 9B. Siddik berlari terengah-engah menuju ruang
kelas. Nyaris saja ia tidak bisa masuk karena gerbang sudah hampir ditutup.
Yah, seperti biasa ia terlambat lagi karena bangun kesiangan. Ia memasukkan
buku dengan terburu-buru dan segera berlari mengejar bus untuk sampai ke
sekolah. Saat tiba di depan gerbang, Pak Mamat sedang menutup gerbang. Ia
berlari sekuat tenaga, akhirnya ia berhasil masuk sebelum gerbang tertutup.
Pak Udin
masuk ke kelas 9B. Beliau menatap sekeliling dan menyadari ada satu bangku yang
kosong. “Mana Siddik?” tanyanya. “Terlambat lagi kah dia?” lanjut Pak Udin.
Seisi kelas hening, saling tatap dan tak tahu harus berkata apa. Tiba-tiba
Siddik masuk sambil berlari. “Ma…maaf pak, saya terlambat.” ucapnya
terbata-bata. Semua siswa tercengang. Pak Udin adalah guru yang terkenal killer
di sekolah. Siddik pasti tidak diizinkan masuk. “kenapa kamu terlambat?” tanya
Pak Udin garang. “Saya kesiangan pak!” ucap Siddik jujur. “Oh, oke silahkan
kamu berdiri di depan kelas selama jam pelajaran matematika ini!“ kata Pak
Udin. Siddik hanya pasrah melangkah ke depan kelas.
Kriiing….kriiing,
bel tanda jam pelajaran usai pun berbunyi. Pak Udin keluar dari kelas dan
menyuruh Siddik duduk. Siddik melangkah menuju tempat duduk sambil
memukul-mukul pelan kakinya yang terasa pegal setelah berdiri selama jam
pelajaran matematika.
“Nonton bola
lagi lo?” tanya Tarisa.
“Iya dong,
Klub kesayangan gw masuk final masa gw gak nonton.” jawab Siddik sambil nyengir
.
“Huuu pantes
kesiangan. Besok jangan telat lagi kalo gak mau dihukum lagi sama Pak Udin.”
Kata Tarisa sambil meninju pelan lengan Siddik.
“Iya
baweeelll!” jawab Siddik sambil mencubit pipi Tarisa.
Siddik dan
Tarisa sudah bersahabat sejak masuk ke SMP Tunas Mandiri. Tarisa sebenarnya
adalah seorang anak yang cukup pendiam dan tidak memiliki banyak teman. Berbeda
halnya dengan Siddik yang supel dan senang bergaul dengan siapa saja. Sejak
awal semester lalu, Siddik dan Tarisa duduk sebangku dengan Tarisa karena Bu
Dewi, wali kelas mereka mengatur tempat duduk anak-anak kelas 9B. Siddik merasa
senang sebangku dengan Tarisa karena Tarisa adalah juara kelas. Untuk urusan
pelajaran, Siddik selalu mengandalkan Tarisa selain itu, sejak kelas 8 Siddik
sudah menaruh perasaan kepada Tarisa tetapi Tarisa tidak pernah mengetahui dan
menyadari perasaan Siddik karena Siddik memang tidak pernah menunjukkannya di
depan Tarisa. Siddik juga memang selalu baik dan perhatian kepada semua
temannya.
Tak terasa,
sudah hampir 6 bulan mereka sekolah. Tak lama lagi ujian akhir semester 1 akan
dimulai. Semua anak sibuk belajar dan mempersiapkan diri menjelang UAS. Siddik
pun mulai meminjam catatan Tarisa dan mulai serius belajar. Sampai suatu hari,
Batang hidung Siddik belum juga tampak padahal bel masuk telah berbunyi. Tarisa
melirik jam tangannya dan berkali-kali menoleh ke pintu masuk. Namun Siddik
tidak juga datang. Tak terasa 3 hari sudah Siddik tidak masuk sekolah. Kemarin
ibunya datang membawa berita bahwa Siddik sedang dirawat di RS Bintang Harapan.
Ternyata, sudah 3 bulan ini Siddik di diagnosis menderita peyakit leukimia atau
kanker darah. Namun tidak ada seorang teman pun yang mengetahui penyakitnya.
Siddik bersikap seperti biasa seolah tidak ada yang terjadi.
Mendengar
berita itu tiba-tiba hati Tarisa terasa sesak. Ia merasa sangat sedih dan
kehilangan. Ia pun akhirnya menyadari bahwa ia memiliki perasaan kepada Siddik
lebih dari sekedar teman dan sahabat.
Siang itu,
sepulang sekolah Tarisa berkunjung ke RS menjenguk Siddik. Siddik terbaring
lemah dan tak berdaya. Selang oksigen terlihat di hidungnya. Ibunya berkata
sudah 2 hari ini Siddik tidak sadar diri. Bagaikan tersambar petir di siang
bolong, tubuh Tarisa terasa lemas seketika. Tak terasa air mata pun menetes di
pipinya. Ia tak ingin beranjak selangkah pun dari si Siddik. Seperti mendapat
firasat, Tarisa menggenggam erat tangan Siddik. Tiba-tiba denyut jantung Siddik
menurun drastis. Suster dan dokter
berdatangan. Tarisa dan Ibunya disuruh menunggu di luar.
Tarisa
menangis memeluk ibu Siddik. Tak lama kemudian dokter keluar dan mengabarkan
bahwa nyawa Siddik tidak dapat tertolong dan ia pun telah meninggal dunia.
Ibu Siddik
pingsan, Tarisa terduduk lemas mendengar ucapan dokter. Seketika ia
terbayang senyuman dan tingkah Siddik.
Ia menyesal terlambat menyadari perasaannya. Ia selalu berdoa agar jiwa Siddik
tenang di surga.
Jumat, 13 September 2019
CERITA PENDEK (CERPEN)
Ciri – Ciri Cerpen
Berikut
ini adalah beberapa ciri dari cerpen:
- Jalan cerita yang dimiliki cerpen cenderung lebih singkat dibandingkan novel.
- Jumlah kata yang dimiliki sebuah cerpen tidak melebihi 10 ribu kata dalam satu kali cerita.
- Ide pokok atau inspirasi dari cerita dalam cerpen ini terkadang berasal dari pengalaman dan kehidupan sehari – hari.
- Cerpen hanya menceritakan seorang tokoh saja, tidak semua tokoh diceritakan.
- Di dalam cerpen selalu seorang tokoh diceritakan sedang mengalami masalah hingga melakukan penyelesaiannya.
- Kata yang digunakan dalam cerpen tersebut cenderung lebih sederhana dan mudah dimengerti oleh pembaca.
- Cerpen menyampaikan sebuah kesan yang teramat dalam sehingga pembaca pun dapat ikut merasakannya.
- Hanya tertulis satu buah kejadian saja yang dipaparkan.
- Alur ceritanya hanya tunggal dan tidak berubah – ubah.
- Penggambaran para tokoh dalam cerita tersebut sederhana tidak terlalu detail.
Struktur Cerpen
Berikut ini adalah beberapa struktur
dari cerpen:
1. Abstrak di bagian awal –
Bagian ini merupakan rangkuman singkat mengenai penggambaran awal dari cerita
yang akan berlangsung dalam cerpen tersebut.
2. Orientasi
– berisi tentang rentang waktu kejadian, suasana yang terjadi dan
tempat yang digunakan.
3. Komplikasi – adalah kaitan
hubungan tentang sebab dan akibat dari suatu kejadian yang terjadi.
4. Evolusi – merupakan
pengarahan permasalahan yang akan menjadi semakin memanas.
5. Resolusi –
penggambaran permasalahan yang sedang terjadi.
6. Koda – suatu hikmah
atau nilai yang bisa di petik oleh para pembaca.
Unsur intrinsik dari
cerpen.
1.Memiliki tema, ini adalah inti/hal pokok yang
akan diceritakan dalam sebuah cerita.
2.
Alur atau plot yang jelas alur atau ployt ini adalah jalan dari sebuah
cerita. Alur ini ada beberapa jenisnya,
yakni alur maju, alur mundur dan alur campuran.
3.
Setting, maksudnya bagian penjelasan mengenai waktu, tempat dan juga
suasana yang terjadi.
4.
Tokoh, merupakan sosok yang diceritakan dalam sebuah karangan.tokoh ada
beberapa jenis, yakni tokoh baik, tokoh jahat dan tokoh netral.
5.
Penokohan, penokohan ini adalah suatu bentuk penggambaran tokoh beserta
dengan sifat – sifat yang dimiliki. Dalam penokohan ini ada dua cara untuk
menentukan penokohan. Yakni melalui metode analitik dan metode dramatik. Metode
analitik adalah suatu metode penokohan yang dijelaskan secara langsung.
Misalkan dia adalah anak yang pemberani, rajin dan pandai. Metode dramatik
adalah suatu metode penokohan yang dijelaskan secara tidak langsung.
Pemaparannya bisa melalui penggambaran kebiasaan atau cara berpakaian.
6.
Sudut pandang, merupakan perspektif yang digunakan oleh si pembuat
cerita pendek.
Sudut
pandang ini ada 4 macam, diantaranya:
- Sudut pandang orang pertama ( menggunakan istilah “Aku”). Contohnya, hari minggu aku pergi ke pasar, membeli beberapa bahan masakan untuk ibu di rumah dalam rangka menyambut tamu spesialku yakni sahabat karibku.
- Sudut pandang orang pertama pelaku sampingan ( maksudnya, tokoh yang bernama aku bukanlah pemeran utama, melainkan sebagai seorang yang ada tapi tidak begitu di fokuskan). Contohnya Lusa aku dan teman – teman berangkat study tour ke beberapa kota yang ada di indonesia. Kami semua sangat senang bisa meluangkan waktu bersama. Namun aku dan satu temanku mengalami keletihan sehingga kami jatuh sakit. Temanku yang bernama Ratih ia mengalami anemia sehingga ia mengalami pusing dan mual lebih parah dari aku.
- Sudut pandang orang ketiga serbatahu ( pembuat cerita menceritakan tokoh bernama dia dengan sangat detail sekali). Contohnya, dia adalah salah seorang anak orang kaya yang ada di indonesia, orang tuanya terkenal di seantero jagat raya ini. Banyak sekali yang ingin menjadi teman dekatnya di sekolah. Namun ia terlalu sombong dan suka memilih – milih teman.
- Sudut pandang orang ketiga pengamat ( maksudnya, pembuat cerita hanya memaparkan apa yang dilakukan, apa yang dialami, apa yang dipikirkan oleh tokoh dia dan terbatas hanya berfokus pada satu orang saja. Contohnya, aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya, ia beberapa akhir ini memanglah terlihat murung dan selalu bersedih. Memang kemarin terdengar kabar bahwa kucing kesayangannya meninggal. Kucing yang ia miliki sejak usia masih di bangku sekolah dasar.
7.
Amanat, amanat ini adalah pesan atau nilai atau hikmah yang bisa diambil
dan di petik oleh para pembaca usai membaca karangan cerita tersebut.
Unsur Ekstrinsik dari Cerpen
Setelah ada unsur instrinsik, tentu
saja ada unsur ekstrinsik, diantaranya adalah:
- Latar belakang masyarakat. Kondisi latar belaka pada masyarakat ini akan mempengaruhi isi dan jalannya cerita.
- Latar belakang dari pengarang. Biasanya kebayakan pengarag akan membawakan cerita berdasarkan pengalaman pribadinya.
- Biografi, adanya biodata secara lengkap yang secara jelas terpaparkan secara menyeluruh.
- Kondisi psikologis, biasanya suka duka, sedih dan senang dalam sebuah cerita dipengaruhi oleh mood dari penulis.
- Aliran sastra, aliran sastra ini akan mempengaruhi gaya bahasa yang dituangkan dalam cerita tersebut.
Contoh Cerpen Persahabatan
Tinggal Kenangan
Pagi itu sangatlah cerah, mentari
pagi muncul memancarkan sinar cerah dengan semangat 67 eh semangat 45
maksudnya. Sama denganku, hari ini adalah hari ulang tahun orang yang sangat
aku kagumi bahkan kucintai. Semua sudah aku persiapkan termasuk kue ultah serta
kadonya.
Aku masuk ke kelas dengan hati
gembira dan bibir tersenyum-senyum sendiri. Kakiku melangkah tepat di depan
pintu masuk kelas dan disambut ceria oleh sahabat sahabatku Syarif dan Renata.
Yaps! hampir lupa, aku Sherly kepanjangan dari Sherlyna rantika putri. Cewek manis berkumis tipis yang kini sedang dilanda asmara cinta.
Yaps! hampir lupa, aku Sherly kepanjangan dari Sherlyna rantika putri. Cewek manis berkumis tipis yang kini sedang dilanda asmara cinta.
“Ciee yang senyum senyum sendiri,
kenapa? sakit?” ucap Renata sambil menekan tangannya ke jidatku.
“Apaan sih Ren, emang aku gila” ucapku (memanyunkan bibir 5 meter).
“Ya mungkin, ya gak Rif?” ucap Renata melirik Syarif.
“Betul, kenapa kamu Sher?” ucap Syarif.
“Hari ini tuh hari special banget buat aku, aku mau bikin suprise buat pangeran cecakku” ucapku panjang lebar sambil bayangin apa yang akan terjadi nantinya.
Pangeran cecak? Ya, pangeran cecak adalah cowok yang aku kagumi selama ini. Aku julukin pengeran cecak karena dia super duper takut sama cecak, namanya Tara.
“Apaan sih Ren, emang aku gila” ucapku (memanyunkan bibir 5 meter).
“Ya mungkin, ya gak Rif?” ucap Renata melirik Syarif.
“Betul, kenapa kamu Sher?” ucap Syarif.
“Hari ini tuh hari special banget buat aku, aku mau bikin suprise buat pangeran cecakku” ucapku panjang lebar sambil bayangin apa yang akan terjadi nantinya.
Pangeran cecak? Ya, pangeran cecak adalah cowok yang aku kagumi selama ini. Aku julukin pengeran cecak karena dia super duper takut sama cecak, namanya Tara.
Bel waktu istirahat pun tiba, siswa
siswi berbondong bondong ingin memanjakan lidah dan juga perutnya yang dari
tadi demo minta makan.
“Hay guys, doain aku ya. Semoga rencana ini sukses berjalan mulus semulus jalan tol, amin” ucapku.
“Oke, tuh ada Tara kebetulan banget deketin gih” ucap Syarif.
“Sukses ya say” ucap mereka berdua serentak serta kepala dimiringkan ala-ala Rita sugiarto penyanyi dangdut.
“Hay guys, doain aku ya. Semoga rencana ini sukses berjalan mulus semulus jalan tol, amin” ucapku.
“Oke, tuh ada Tara kebetulan banget deketin gih” ucap Syarif.
“Sukses ya say” ucap mereka berdua serentak serta kepala dimiringkan ala-ala Rita sugiarto penyanyi dangdut.
Aku berjalan dengan pedenya sampai
gak lihat ada batu di depanku, untungnya gak jatuh, kalau jatuh malu dong sama
pangeran cecakku.
Setelah melewati lorong lorong
kelas, aku melihat Tara lagi berduaan sama Lyla cewek yang paling aku benci
karena gayanya yang kecentilan, sok cantik, sombong pokoknya aku ilfeel banget
deh sama dia. Tanpa sadar kue dan kadonya jatuh ke lantai, aku berlari secepat
mungkin sambil menangis.
Aku melihat ekspresi Renata dan
Syarif kebingungan dengan tingkahku yang mula ceria berubah drastis menjadi
duka membara.
“Sherly, kamu kenapa?” ucap Renata sambil memelukku.
“Tara sama Lyla berduaan mereka mesra banget” ucapku terbata bata.
“Udahlah cari yang lain, masih banyak kok” ucap Syarif.
“Sherly, kamu kenapa?” ucap Renata sambil memelukku.
“Tara sama Lyla berduaan mereka mesra banget” ucapku terbata bata.
“Udahlah cari yang lain, masih banyak kok” ucap Syarif.
Sepulang Sekolah kurebahkan tubuhku
di kasur empuk milikku. Kutatap langit biru kamarku. Pikiran itu selalu
terngiang ngiang di memory otakku. Kubangkitkan tubuh ini menuju meja belajar.
Pena menari nari amat lambat di atas kertas polos putih. Kutulis kata puitis yang berisi sesuai isi hatiku.
Pena menari nari amat lambat di atas kertas polos putih. Kutulis kata puitis yang berisi sesuai isi hatiku.
Tinggal kenangan.
Kuukir namamu dalam hatiku
Agar hati ini tak dalam kekosongan.
Meskipun kau telah menodai hati ini,
Akan kuhapus dengan sejuta air mata.
Agar hati ini tak dalam kekosongan.
Meskipun kau telah menodai hati ini,
Akan kuhapus dengan sejuta air mata.
Aku rela mentari membakar kulitku
Aku rela kebahagiaanku kuberikan padamu
Asal kau bahagia.
Aku rela kebahagiaanku kuberikan padamu
Asal kau bahagia.
Namun itu dulu
Sekarang sudah terbalut
Oleh balutan kenangan.
Sekarang sudah terbalut
Oleh balutan kenangan.
For Tara (pangeran cecakku)
Pagi ini mendung, mentari engan tul
memancarkan sinarnya, sama dengan hatiku.
Mungkin mentari mengerti apa yang sedang aku rasakan.
Aku berjalan sempoyongan dengan mata sembab gara gara menangis semalaman menuju kelasku disambut oleh sahabat sahabatku.
Mungkin mentari mengerti apa yang sedang aku rasakan.
Aku berjalan sempoyongan dengan mata sembab gara gara menangis semalaman menuju kelasku disambut oleh sahabat sahabatku.
“Sherly kamu jangan begitu dong,
kita kan juga turut sedih jadinya. Strong bro move on bangkit dari keterpurukan
ini” ucap Renata menenangkanku.
“Dan kamu jangan kaget ya, kalau Tara sama Lyla sudah jadiab kemarin. Aku tahu berita ini dari Gita teman sekelas kita” ucap Syarif.
“Iya makasih ya sahabat sahabatku. Kalian itu orang yang selalu suport aku, aku sayang kalian. Aku akan move on dari Tara dan selalu bersama kalian” ucapku menangis terharu.
Kita bertiga saling berpelukan.
“Dan kamu jangan kaget ya, kalau Tara sama Lyla sudah jadiab kemarin. Aku tahu berita ini dari Gita teman sekelas kita” ucap Syarif.
“Iya makasih ya sahabat sahabatku. Kalian itu orang yang selalu suport aku, aku sayang kalian. Aku akan move on dari Tara dan selalu bersama kalian” ucapku menangis terharu.
Kita bertiga saling berpelukan.
Sahabat bukanlah selayaknya pacaran
yang dapat putus atau nyambung. Namun, Sahabat adalah persatuan yang abadi.
– Karya Septy Aisyah –
Contoh Cerpen Lucu
Diet Berakhir Jeruji
Adalah Joe, yang hanya bisa mengejar
tukang bakso dengan pandangannya yang pilu, Joe merupakan mahasiswa yang bisa
dikatakan maniak weight loss, yang mengatur diet sehat dan diet ketat -macam
betul. Hari-hari ia isi dengan konsumsi makanan penuh gizi rendah kalori, plus
dengan hati yang tidak menikmati. Joe tidak menyadari bahwa ia tidak terlahir
kurus, kedua orangtuanya gemuk, hampir seluruh sanaknya gemuk, kecuali satu orang,
yaitu Alex, si buncit yang humoris.
Namun Joe percaya dengan motivasi
dari seminar bisnis multilevel yang pernah digelutinya 5 bulan lalu, “tidak ada
yang tak mungkin”, “jika kalian ingin mencapai apa yang kalian inginkan”, dan
“sukses usia muda”, tentu saja sukses bagi Joe adalah sukses menurunkan berat
badan, apa yang membuat Joe tidak pernah berhasil adalah nafsu makan yang sama
besar dengan badan, memang ia memakan sayur, dengan porsi yang sangat banyak.
Suatu hari ia membaca sebuah artikel
“Tertawa dapat membakar lemak” dan dengan sangat serius menanggapi, Joe sama
dengan kedua orangtuanya, pemurung dengan muka berlemak -sulit dibuat tertawa.
Namun hari dimana ia membaca artikel itu adalah hari dimana ia seolah terlahir
kembali. Joe menjadi pribadi yang gampang sekali tertawa, bahkan saat seseorang
berbicara serius (pada saat itu Joe menerima caci maki), sikap Joe yang berubah
tentu mengundang berbagai penafsiran dari masyarakat, dan didominasi oleh
pandangan bahwa ia telah gila.
Sedikit namun sakit, Joe
perlahan-lahan diabaikan, teman-temannya sering memandang paham ke arahnya
ketika ia mencoba berbicara hal yang lucu, hanya merespon berupa tersenyum
penuh simpati, keluarga Joe pun perlahan mulai mengabaikannya, dan ketika Joe
menimbang badannya, mendapati beratnya hanya berkurang sedikit, beberapa ons,
ia meningkatkan intensitas ‘latihannya’.
Hingga pada suatu pagi, pihak
keluarga sudah tidak kuat lagi dan melaporkan Joe ke rumah sakit Jiwa di pusat
kota, dan sorenya datanglah sebuah avanza hitam ke rumah Joe, membawa lima
orang dokter jiwa (orangtua Joe sudah mengatakan sebelumnya kalau Joe bertubuh
besar dan suka melawan) dan menyeret paksa Joe ke dalam mobil, bahkan Joe tetap
tertawa karena salah satu motivasinya dalam latihan tertawa ini adalah “memandang
positif dari segala sesuatu”, singkat cerita, Joe harus menginap sampai waktu
yang belum ditentukan di balik jeruji besi yang dicat putih, berjalan dalam
takdir, takdir untuk bersama penghuni-penghuni lain yang juga melakukan
‘latihan’ yang sama.
Dan tibalah mereka di RSJ pusat
kota, avanza itu diparkir tepat di depan pintu masuk, Joe digiring layaknya
tahanan, begitu sampai di dalam, semua orang terkejut, dengan wajah ‘inikah
dajjal yang terkutuk itu’ Joe melirik marah ke sekeliling, seperti banteng
menghadap matador, kedua tangannya yang diborgol bergetar, dokter-dokter yang
menggiringnya mulai cemas, anak itu tepat seperti apa yang dikatakan
orangtuanya -pelawan.
Para dokter yang menggiring Joe
mulai mempercepat langkahnya menuju kamar sel nomor 3 di ujung kiri, dekat
tangga, yang di bawah nomornya bertuliskan ‘tidak perlu menunggu mukjizat untuk
sembuh’, borgol semakin bergetar, menimbulkan bunyi krincing-krincing yang
menarik perhatian hingga ke pintu depan, seolah akan ada yang kerasukan.
Sang satpam dengan rambut mangkuk,
yang mejaga pintu depan bergegas menuju ke arah para dokter yang bersama Joe,
berlari dengan epik, pasalnya selama hampir 1 tahun ia bekerja ia hampir tak
pernah digunakan untuk mengamankan -ada satpam lain yang lebih berwibawa untuk
itu,
“Lepaskan aku! Aku bukan orang
gila!” Teriak Joe seolah baru bangun dari hipnotis, bagaimana bisa ia belum
tahu sampai harus berada di depan pintu sel,
“Tenang-tenang, tenang-tenang” satu dokter mengurut-ngurut lengan Joe dengan hampir profesional,
“Tenang-tenang, tenang-tenang” satu dokter mengurut-ngurut lengan Joe dengan hampir profesional,
Satpam sudah sampai, Joe merasa
seperti dibinatangkan, akhirnya meteran amarah sudah sampai pada batasnya, Joe
entah bagaimana caranya, dan di depan hakim para dokter akan bersaksi,
“Saya melihat anak itu melepaskan
borgol dengan kekuatannya, dan seketika itu kami semua panik”
Kedamaian yang biasanya ada di sore
hari RSJ tersebut, hilang dalam sekejap diganti riuh yang menegangkan, alarm
berbunyi, satu orang di ruang resepsionis tergesa-gesa menekan nomor pada
telepon yang ada di meja, para pasien di ruang bawah mendekatkan diri mereka ke
jeruji, bohong dengan wajah takut namun mereka sangat menikmati.
Satpam rambut mangkuk segera
mencekik Joe dari belakang, Joe pun segera meresponnya, dengan reflek serta
kekuatan, yang dibangun dari setidaknya beberapa bulan diet ketat (dan sehat),
membuat badan besarnya tidak hanya besar bodoh, namun besar sehat yang di dalam
setiap ototnya terdapat kekuatan dari gizi makanan mahal. Joe langsung
menjungkirkan si satpam ke depan, tubuh satpam yang tadi menggantung di belakang
Joe terhempas keras ke lantai.
Si Satpam, muka ‘bule’nya memerah,
matanya melihat ke atas sekali, hingga hanya putih yang terlihat di matanya
yang bulat, terkapar kejang-kejang, dan dadanya kembang-kempis, persis seperti
ingin mengeluarkan bunyi mirip kentut dari punggungnya yang menempel di lantai.
Para dokter ragu dalam keterburu-buruan yang seolah akan mengambil tindakan
mantap -namun tidak melakukan apapun.
Satu, dua dokter tumbang dengan satu
dorongan, hanya dua pria yang takut berdiri dan memilih untuk pura-pura mati,
namun mata lebar Joe masih terfokus pada satu dokter, yang berlari ke arah
pintu depan, Joe bergegas mengejarnya, dengan lambat.
Polisi: Apakah ia berhasil mengejar
anda?
Dokter: Tidak, saya berlari ke arah jalan besar, dan terus berlari sambil sesekali menoleh ke arah rumah sakit, disana Joe, masih berdiri di luar dekat pintu, kepalanya menoleh ke segala arah dengan dingin.
Polisi: Baik, baik pak, terima kasih, sekarang bapak boleh keluar lewat pintu yang di sana.
Dokter: T-t-terima kasih pak, kalau boleh tau, apa bapak pernah mendengar nama Joe? Mana tahu, mana tahu ini kan, dia pernah melakukan tindakan kriminal.
Polisi: (mengangguk mantap) kami semua saudara Joe, ayo bapak yang di pintu itu sudah menunggu pak dokter dengan tongkat baseballnya, silahkan.
Dokter: Tidak, saya berlari ke arah jalan besar, dan terus berlari sambil sesekali menoleh ke arah rumah sakit, disana Joe, masih berdiri di luar dekat pintu, kepalanya menoleh ke segala arah dengan dingin.
Polisi: Baik, baik pak, terima kasih, sekarang bapak boleh keluar lewat pintu yang di sana.
Dokter: T-t-terima kasih pak, kalau boleh tau, apa bapak pernah mendengar nama Joe? Mana tahu, mana tahu ini kan, dia pernah melakukan tindakan kriminal.
Polisi: (mengangguk mantap) kami semua saudara Joe, ayo bapak yang di pintu itu sudah menunggu pak dokter dengan tongkat baseballnya, silahkan.
-Karya Guido Gusthi Abadi-
Contoh Cerpen Cinta Romantis
Surat Cinta dan Sebatang Coklat
Aku mengintip dari balik pohon
beringin, agak jauh dari gadis itu. Ia masih duduk bersimpuh di sana. Wajahnya
terlihat serius. Tangan indahnya terlihat sedang menggoreskan tinta ke selembar
kertas yang ia bawa dari rumah. Kulihat sebutir air mata jatuh dari pelupuk
matanya dan diikuti tetes-tetes air mata berikutnya. Ya, dia pasti menulis
surat lagi!
Beberapa menit berlalu, dia pun
menyelesaikan suratnya dan memasukkannya ke dalam sebuah amplop merah muda. Aku
tetap pada posisiku. Gadis cantik itu pun berdiri, meletakkan amplop itu di
tempat biasa, tersenyum, kemudian beranjak pergi. Ketika dia sudah tak terlihat
lagi, dengan langkah hati-hati aku mendekati tempat dimana dia meletakkan
suratnya tadi. Kuambil surat itu, kubuka perlahan, dan mulai membacanya…
Kepada: Arvito Abi
Ketika aku menulis surat ini, suasana di sekeliling aku sangat sepi, Vit. Aku tak pernah berpikir sebelumnya, bahwa kesepian ini kamu rasakan setiap hari. Aku merasa menjadi perempuan tak berguna karena tak bisa selalu menemani kesendirianmu. Maafkan aku hanya bisa datang setiap Sabtu pagi untuk sekedar melepas kerinduanku padamu. Aku benar-benar rindu, Vit…
Ketika aku menulis surat ini, suasana di sekeliling aku sangat sepi, Vit. Aku tak pernah berpikir sebelumnya, bahwa kesepian ini kamu rasakan setiap hari. Aku merasa menjadi perempuan tak berguna karena tak bisa selalu menemani kesendirianmu. Maafkan aku hanya bisa datang setiap Sabtu pagi untuk sekedar melepas kerinduanku padamu. Aku benar-benar rindu, Vit…
Hari ini, aku ingin menceritakan
banyak hal ke kamu…
Vito, kamu pasti ingat dulu kamu pernah berkata bahwa kamu ingin memiliki sebuah rumah yang letaknya jauh dari keramaian. Ketika itu kamu berkata, kamu ingin hidup di sana bersama orang yang kamu sayang dan kamu berkata orang itu adalah aku. Percaya atau tidak, sekarang rumah itu sudah ada, Vit. Aku bangun rumah itu dengan hasil keringat aku sendiri. Walaupun sepenuhnya aku sadar, kamu sudah damai hidup sendiri di sini, tapi setidaknya aku berhasil mewujudkan salah satu keinginan kamu. Semoga kamu terkesan, Vit…
Vito, kamu pasti ingat dulu kamu pernah berkata bahwa kamu ingin memiliki sebuah rumah yang letaknya jauh dari keramaian. Ketika itu kamu berkata, kamu ingin hidup di sana bersama orang yang kamu sayang dan kamu berkata orang itu adalah aku. Percaya atau tidak, sekarang rumah itu sudah ada, Vit. Aku bangun rumah itu dengan hasil keringat aku sendiri. Walaupun sepenuhnya aku sadar, kamu sudah damai hidup sendiri di sini, tapi setidaknya aku berhasil mewujudkan salah satu keinginan kamu. Semoga kamu terkesan, Vit…
Oh iya, Vit, dua hari yang lalu aku
menerima seikat bunga dari kakak kamu, Kak Restu. Awalnya aku kira itu hanya
sebagai ucapan selamat dari Kak Restu atas kelulusan aku. Tapi ternyata, Kak
Restu mengungkapkan perasaannya ke aku, Vit. Jangan marah dulu, beneran setelah
itu, aku langsung mengembalikan bunganya. Aku berkata bahwa aku tidak bisa. Aku
hanya menganggapnya sebagai seorang kakak. Sebenarnya, ada alasan yang lebih
dari itu dan dia pasti tau, Vit. Aku jadi teringat kamu, Vito. Ketika kamu
mengungkapkan perasaanmu ke aku, kamu kasih aku sebatang cokelat karena kamu
sangat tau aku tidak suka bunga. Pokoknya kamu itu orang yang paling bisa
mengerti aku dan selamanya kamu takkan pernah tergantikan…
Vit, sebenarnya surat ini tidak sama
seperti surat-suratku sebelumnya. Surat ini bukan hanya sekedar surat cinta,
tetapi juga surat perpisahan. Vito, entah aku harus bahagia atau berduka ketika
mengatakannya. Aku akan pergi, Vit. Aku mendapat beasiswa untuk melanjutkan S2
di Jepang. Aku akan mewujudkan satu lagi keinginan kamu. Keinginan kamu untuk
menulis nama kita berdua di puncak Gunung Fuji. Di Jepang nanti, aku akan
menghuni rumah impian kamu itu, Vit. Rumah impian kita berdua. Aku tidak
sendirian di sana. Aku percaya bayangan kamu selalu ada di samping aku…
Vito, ini berarti aku harus
meninggalkan kamu di sini sendirian. Selama beberapa tahun ke depan aku tidak
bisa melakukan ritual Sabtu pagi mengunjungimu. Jujur, aku sedih, Vit. Tapi aku
yakin jalan yang aku ambil ini akan bahagiakan kamu dan kedua orangtuaku.
Doakan saja aku dari sini…
Vit, kamu lihat, matahari di sini
mulai tenggelam. Ini adalah waktu favorit kita, Vit. Senja. Mungkin saatnya aku
pulang. Seperti biasanya, bersamaan dengan surat ini kusertakan sebatang
cokelat kesukaanmu. Kuletakkan di bawah nisan yang berukir indah namamu…
Aku pamit, Sayang. Selamat tinggal.
Doakan aku supaya tetap bahagia. I Love You More, Vito…
Terdalam,
Regita Feronica J. (Gita)
Regita Feronica J. (Gita)
Tanpa sadar, aku berurai air mata
usai membacanya. Aku baru menyadari sepenuhnya bahwa gadis itu masih belum bisa
lepas dari Vito, adik lelakiku yang kini telah hidup damai di akhirat sana.
Tiba-tiba aku menyesal pernah mengungkapkan perasaanku padanya karena sekarang
aku yakin cinta mereka berdua abadi meskipun salah satu diantaranya sudah pergi
dan tinggal sebuah nama.
Aku melirik cokelat yang tergeletak
tepat di bawah nisan adikku. Kemudian kuusap air mataku, tersenyum, dan
bertekad memendam seluruh perasaanku pada gadis itu.
Gita, aku akan berjalan mundur…
-Karya Tiara Eviani Putri-
Contoh Cerpen Kehidupan
Bintang
Dia, duduk di samping jendela,
dibawah sinar lampu yang temaram. Mencoba memandang langit yang gelap, hanya
ada rembulan yang memantulkan sebagian dari cahaya matahari. Tak ada bintang
yang terlihat, semua bersembunyi dibalik awan, barangkali malu untuk kulihat,
katanya dalam hati seraya tersenyum. Angin malam berhembus sepoi-sepoi, solah
menghembuskan udara pada wajahnya yang lembut. Awan bergerak perlahan,
memberikan seni tersendiri di kegelapan malam. Ahh, ternyata ada satu bintang
di balik awan, senyumnya tersungging di balik bibirnya yang mungil. Ya Rabb,
ternyata setitik cahaya pun bisa memberikan keindahan yang luar biasa diantara
luasnya langit yang gelap di malam hari. Ah, seandainya ketika membuka jendela,
memandang langit dan tak menemukan bintang kemudian dia tak mencoba menatap
awan tapi menutup jendela kembali, dia tak akan menemukan bintang yang
tersembunyi di balik awan.
***
Seperti setitik bintang di kegelapan malam, terkadang kita tak menyadari ada cahaya kecil dalam malam yang gelap, yang kita berinama “bintang”. Betapa indahnya cahaya itu walaupun tak bisa menerangi malam. Tapi, lain halnya ketika kita melihat ada setitik noda di atas kain putih yang membentang. Kita justru terfokus pada noda yang kecil, dan seolah lupa betapa bersihnya kain itu terlepas dari setitik noda yang ada, yang mungkin bisa hilang hanya dengan sedikit detergent pemutih. Itulah hidup, kadang-kadang kita lupa untuk memandang sesuatu dari sisi lain yang dimiliki.
Seperti setitik bintang di kegelapan malam, terkadang kita tak menyadari ada cahaya kecil dalam malam yang gelap, yang kita berinama “bintang”. Betapa indahnya cahaya itu walaupun tak bisa menerangi malam. Tapi, lain halnya ketika kita melihat ada setitik noda di atas kain putih yang membentang. Kita justru terfokus pada noda yang kecil, dan seolah lupa betapa bersihnya kain itu terlepas dari setitik noda yang ada, yang mungkin bisa hilang hanya dengan sedikit detergent pemutih. Itulah hidup, kadang-kadang kita lupa untuk memandang sesuatu dari sisi lain yang dimiliki.
Saya, memiliki seorang murid yang
saya pikir kecerdasannya kurang menonjol dibanding lainnya. Suatu hari, ketika
kami tengah membicarakan sistem tata surya, hanya sebagai pengetahuan bahwa
bumi merupakan salah satu planet dalam sistem tata surya yang menjadi tempat
tinggal manusia, murid saya itu, sebut saja namanya Rimba, tiba-tiba berdiri
dan mengambil helm milik guru lain yang disimpan diatas loker dalam ruang kelas
serta memakainya. Tanpa saya sadari saya berkata kepadanya :”Wah,,,teman-teman,
lihat!! Rimba memakai helm, seperti astronot yang mau terbang ke bulan ya…”.
Semua teman-temannya memandang ke arahnya, dia tersenyum, spontan helmnya
langsung di lepas dan dikembalikan ke tempat semula, tanpa harus disuruh untuk
mengembalikan. Kemudian saya ajak mereka untuk menggambar roket di atas kertas
putih yang tersedia. Dan hasilnya, Subhanallah, murid yang saya pikir
kecerdasannya kurang menonjol itu justru tahapan menggambarnya dua tingkat
lebih tinggi dibanding murid yang saya pikir paling pandai di kelas.
Seandainya saja saya memberikan
reaksi yang lain seperti :”Rimba, silakan dikembalikan helmnya karena sekarang
saatnya kita belajar”, atau :”Maaf, silakan dikembalikan helmnya karena Rimba
belum minta ijin bu guru”, atau yang lainya, mungkin saya tidak akan pernah
tahu bahwa kecerdasan dia sudah lebih dari apa yang saya sangka karena
pembahasan hari itu bukan tentang astronot atau roket. Atau barangkali saya
membutuhkan lebih dari satu kalimat perintah untuk membuatnya mengembalikan
helm ke tempat semula.
Reaksi berbeda yang kita berikan
ketika kita memandang bintang di kegelapan malam atau setitik noda di selembar
kain putih ternyata akan memberikan hasil yang berbeda pula. Hidup ini indah,
cobalah kita memandang sesuatu dari sisi yang lain, maka yang tampak bukan
hanya sekedar 2 dimensi. Bukankah lebih seru ketika kita melihat film 3
dimensi???
-Karya Wijayanti-
Contoh Cerpen Motivasi
Matahari
Pun Tak Bosan
Ku bangkit setelah lama ambil posisi
jongkok menyaksikan kejadian yang menimpa embun. Mentari mulai meninggi dan
membasahi seluruh ragaku dengan cahaya kuningnya yang lembut. Kugerakan seluruh
ototku. Kuajak tubuhku beraktivitas. Yah… kuolah ragaku.
Putar kanan… putar kiri… hadap
kanan… hadap kiri… badanku meliuk-liuk. Aliran darah segar segera membanjiri
pembuluh darahku. Aku terbuai keasyikan. Di tengah keasyikan itu, samar-samar
kudengar orang bercakap-cakap. Kuajak kakiku melangkah mencari asal suara. Di
ruang tamu kudapati dua orang tengah terlibat perbincangan yang serius. Aku
intip dibalik pintu belakang. Bapak angkat dan temannya. Aku tak mengerti apa
yang sedang mereka bicarakan. Bahasa sunda adalah penghalangnya, karena aku
tidak mengerti bahasa itu.
Diam-diam kuberanikan duduk
disamping bapak angkatku setelah mendapat perizinan. Akupun kini terlibat dalam
pembicaraan yang telah mereka mulai. Dengan menggunakan bahasa indonesia raya,
aku bertanya dan menjawab serta menanggapi apa yang ada dalam diskusi pagi itu.
Masalah pekerjaan dan tetek
bengeknya, hal itulah ternyata yang jadi perdebatan. Bapak angkatku seorang
pedagang dan beliau menekuni pekerjaan itu. temannya seorang guru dan
setengah-setengah menjalani profesi yang dimilikinya.
“Saya heran kenapa kamu tak pernah
capek bolak-balik dari rumah ke pasar tiap hari?” Pertanyaan temannya buat
bapak. Pertanyaan konyol kupikir. Bagaimana tidak coba , kalau aku boleh
bertanya padanya kenapa pula dia tak pernah capek bolak-balik dari rumahnya ke
sekolah? Ya… kan?
“Kata siapa saya tidak capek!” Bapak
menanggapinya singkat.
“Hmm… tidak, maksud saya apakah kamu
tidak bosan?” pertanyaan lanjutan buat bapak. Gila, sepertinya ini orang sedang
didera kebosanan nich dengan kerjanya. Ah, tapi apa mungkin. Kalau tidak kenapa
dia bertanya dengan pertanyan konyol seperti itu? Hatiku berdialog sendiri.
Suasana ruangan membisu. Kulirik
bapak angkatku. Bapak diam. Bukan diam biasa. Ada kebijaksanaan dan wibawa
tercipta diwajahnya dan aku baru tahu itu. Perkenalanku dengan bapak angkatku
belumlah lama, baru sepekan lebih dua hari. Sejauh ini aku lihat bapak orangnya
humoris, kocak, suka bercanda dan jarang serius. Tapi pagi ini beda sekali.
Bapak menghela napas, mengisi ruang
kosong didadanya. Perlahan mengalir nasihatnya lewat lisannya. Diwejangkan
jawaban buat pertanyaan temannya.
“Kamu tahu matahari bukan?” Retoris
bapak bertanya. Temannya mengangguk. Begitu juga aku.
“Matahari bersinar disiang hari.
Muncul ditimur dan tenggelam dibarat. Dia bertugas menerangi bumi, memberi
kehidupan untuk makhluk yang ada di seantero persada.”
Kembali bapak diam. Kulihat teman
bapak diam menyimak sabda bapak. Aku ikut menunggu apa yang akan disampaikan
bapak selanjutnya.
“Kalau matahari berhenti sejenak
saja dari tugasnya, apa yang bakalan terjadi?”
“Kacau…” Jawab teman bapak. aku
mengiyakan. Bapak, aku dan temannya tertawa. Suasana kembali tak tegang.
“Bagaimana jadinya jika matahripun
ikut bosan dan meninggalkan tugasnya?”
Pertanyaan retoris bapak muncul lagi.
Pertanyaan retoris bapak muncul lagi.
“Begitulah, bagaimana pula saya akan
bosan bolak-balik ke pasar. Jika saya bosan dan berhenti bekerja, tentunya anak
istri saya tak akan makan. Bukankah begitu Jang?”
Temannya tersenyum di balik
anggukannya. Tampak semangat baru terpancar di air mukanya, seolah wajah itu
berkata “Ayo… semangat bekerja Jang, mendidik dan mengajar siswa-siswamu”
Aku terharu mendengar untaian petuah
bapak barusan. Aku tidak menyangka sedikitpun kalau dari lisan lelaki yang
tidak sempat menyelesaikan sekolah dasar ini mampu memberikan motivasi dan
pencerahan pada temannya, meskipun profesinya hanyalah sebagai seorang
pedagang. Salut dech… dua jempol untuk bapak angkatku… Hidup pak Rohim, Bapak
yang ikhlas penuh cinta menerimaku selama melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN)
di pinggiran Kota Banten ini.
-Karya Danil Gusrianto-
Contoh Cerpen Perjuangan
Semut
yang Pindah Rumah
“Maju.. maju..
dia mendekat, cepatlah..
kita harus selamat sampai di sana..”
Begitulah suara riuh-riuh kecil yang kudengar sejak dari tadi aku bangun tidur. Meraka keluar dari kediaman pertama mereka, berbaris entah itu menuju kemana. Perjalanan mereka yang begitu panjang, membuat mereka takut akan terjadi sesuatu.
dia mendekat, cepatlah..
kita harus selamat sampai di sana..”
Begitulah suara riuh-riuh kecil yang kudengar sejak dari tadi aku bangun tidur. Meraka keluar dari kediaman pertama mereka, berbaris entah itu menuju kemana. Perjalanan mereka yang begitu panjang, membuat mereka takut akan terjadi sesuatu.
Aku yang langsung kaget melihat
mereka, dapatkah engkau bayangkan ketika bangun tidur mereka berbaris di
dinding, sedangkan wajahku mengahadap kesana. Sontak aku langsung kaget, saat
itu juga rasa ngantukku hilang, padahal awalnya aku malas sekali untuk bangun.
Rasa takut meghampiriku. Tapi, lama-lama rasa itu mulai hilang, aku mulai
memperhatikan mereka dengan seksama, apa yang mereka fikirkan? Mengapa mereka
tampak terlalu tergesa-gesa berjalan?
Mungkin mereka mengira bahwa aku
adalah raksasa jahat yang akan mengganggu mereka.. hmm.. mereka terlalu
berprasangka buruk terhadapku, tapi lama-kelaman pasukan mereka bertambah
sampai- sampai ratu mereka juga keluar. Aku yang tadinya niat tidak akan
mengganggu mereka mulai merubah fikiran, kaya’nya mereka yang akan menakut-takutiku.
Aku beraksi, aku ambil minyak angin
aku semburkan pada mereka, sontak mereka berkeliaran tak tau arah lagi. Aku
mulai prihatin, banyak di antara mereka keluar dari jalur yang ada, kehilangan
arah kerena semburan tadi. Hidup mereka memang sulit. Ada saja yang mengganggu
mereka di tengah perjalanan. Tidak lama kemudian mereka malui terarah lagi,
telah berbaris dan jalan ke tempat tujuan awal mereka, mereka mencari jalan
baru yang tidak terkontaminasi dengan minyak angin tadi.
Aku menyerah untuk memganggu mereka.
Aku biarkan mereka menuju tempat yang lebih nyaman, perlahan aku tau ternyata
mereka berjalan menuju rumah baru yang lebih aman dari rumah sebelumnya. Ratu
mereka memerintahkan untuk pindah karena tempat yang lama di rasa sudah tidak
memberikan perlindungan bagi meraka lagi. Perjalanan mereka yang jauh akhirnya
bermuara pada tempat yang lebih baik dari sebelumnya, disana mereka kembali
menata kehidupan mereka.
Dari kisah semut tadi aku belajar
perjalannan hidup yang mahal harganya. Dimana saat kita telah mengusahakan
sesuatu katakanlah itu impian kita, maka jika di tengah perjalanan dalam
menggapai impian itu kita jatuh. Langsung bangkit, temukan jalan lain yang
lebih baik untuk menggapainya. Karena jika kita tetap diam, kita akan ketinggalan
yang impian itu semakin jauh dari kita, kehidupan akan terus berlanjut meskipun
tanpa kita.
-Karya Devi Yulia Rahmi-
Contoh Cerpen Fantasi
Hikayat
Penciptaan Bintang
berdaun rindang dalam belantara,
tinggallah peri yang selalu durja. Tiap hari kerjanya hanya menangis. Matanya
sembab dan raut wajahnya murung. Kalau malam tiba, tangisannya terdengar ke
seluruh penjuru hutan hingga pohon pohon dan binatang binatang terjaga dari
tidur mereka. Kalau siang datang, lamunannya Dulu ketika peri peri hidup di
bumi dan jumlah manusia masih sedikit, pada batang pohon oak panjang seolah
sedang memikirkan perkara yang maha berat.
Karena tangis sang peri tak kunjung
reda dan membuat seluruh penghuni hutan terusik, datanglah angin padanya. Angin
bertanya kenapa ia begitu bersedih? Peri bangkit dari sandaran,
dikibas-kibaskan sayap kecilnya kemudian duduk dengan cara mendekap lutut di
atas punggung angin. “Kawan kawanku telah pergi. Mereka telah pindah ke utara
untuk mencari rumah baru dengan meninggalkanku”
“Kenapa kawan kawanmu meninggalkanmu ?” tanya angin. Sang peri diam. “Kenapa?”,
desak angin. “Karena aku buruk rupa” jawabnya sambil memalingkan wajah. Kemudian tampaklah benjolan besar di pipi sebelah kanannya hingga karena benjolan itu mukanya terlihat bopeng. Sedang di seluruh permukaan wajahnya terdapat pula banyak bintik merah, yang kalau satu saja bintik itu pecah maka terciumlah bau tak sedap ke seluruh tempat di mana ia berada. Dengan wajah seperti itu, peri peri lain selalu mengejeknya.
“Kenapa kawan kawanmu meninggalkanmu ?” tanya angin. Sang peri diam. “Kenapa?”,
desak angin. “Karena aku buruk rupa” jawabnya sambil memalingkan wajah. Kemudian tampaklah benjolan besar di pipi sebelah kanannya hingga karena benjolan itu mukanya terlihat bopeng. Sedang di seluruh permukaan wajahnya terdapat pula banyak bintik merah, yang kalau satu saja bintik itu pecah maka terciumlah bau tak sedap ke seluruh tempat di mana ia berada. Dengan wajah seperti itu, peri peri lain selalu mengejeknya.
Sang peri mengajak angin menuruni
pohon, kemudian mereka terbang menuju telaga. Sesampainnya di sana tampaklah
bulan yang bayangan wajahnya terpantul di atas permukaan air. “Kau tahu,”
lirihnya. “keinginanku sekarang, aku ingin cantik dan bersinar seperti dia,
dengan begitu niscaya sirnalah kedukaanku”. Angin menggelengkan kepala, “Tak
mungkin” katanya dalam hati. Bulan begitu agung, ia perhiasan malam sebagaimana
matahari menjadi perhiasan siang. Setiap mahluk tentu boleh bermimpi untuk
memiliki kecantikannya namun mustahil bisa mendapatkannya. Mimpi memiliki
kecantikan bulan hanya akan berakhir pada kesia-saiaan.
Sang peri menatap angin lalu
berkata, “Akan kuminta bulan agar membagi kecantikannya denganku, kan kujumpai
ia sekarang”. Terbanglah ia menuju langit, namun begitu sampai di antara
gumpalan awan, ia terpental ke bumi, sayapnya terlalu kecil dan napasnya lebih
dulu habis sebelum sampai ke atas sana. Berkali kali ia mencoba namun lagi lagi
terpental. Sang peri menghampiri angin, ia meminta agar angin mengantarnya.
Angin menggelengkan kepala kembali. katanya Perjalanan dari bumi kebulan sangat
jauh, tak satu mahlukpun dapat sampai kesana termasuk dirinya.
Wajah sang peri bertambah muram. Kesedihan
makin membayangi. Ditatapnya lagi bayangan bulan di atas telaga, lama dan
dalam. Ketika ia terpesona oleh kecantikan tersebut, kepalanya menjadi berat,
pandangannya memburam dan akhirnya karena merasakan kelelahan yang sangat,
iapun ambruk tak sadarkan diri.
Saat siuman, pandangan sang peri
masih kabur sedang pusing membebat kepalanya. Namun dalam pandangan yang belum
jernih tersebut, ia melihat bayangan terang keemasan di hadapannya. Makin lama
bayangan itu makin jernih. Alangkah terkejutnya ia begitu mengetahui kalau
ternyata bulan telah turun ke bumi tuk menemuinya. Ketika peri hendak
mengatakan sesuatu, bulan lebih dulu memotong dengan berkata “Aku sudah tahu
apa yang kau inginkan”.
Bulan menjulurkan tangan dan
mendekap sang peri di dadanya. Tanya bulan, apakah cantik adalah syarat utama
untuk dapat mencinta dan dicinta? Benarkah menjadi cantik itu menyenangkan?
Sang peri mengerutkan dahi. Bulan kembali berkata dengan meyampaikan sebuah
rahasia, kalau kecantikan yang diinginkan sang peri nyatanya sekadar kefanaan
karena suatu ketika ia kan pudar. Itulah kecantian jasmani, yang karenanya
telah membuat para lelaki tertipu hingga rela saling menghunus pedang, membunuh
dan menghancurkan. Ia yang cantik jasmani saja umpama dadu yang terbuat dari
kobaran api, yang membuat para lelaki saling berebut mendapatkannya walau amat
panas ia digenggaman. Sejarah kecantikan jasmani adalah sejarah pertumpahan
darah, kedengkian, kesombongan dan tipuan.
“Apakah aku tidak boleh menjadi
cantik” tanya sang peri. Bulan tersenyum, bukan begitu jawabnya. Lebih dari
cantik ia juga harus berguna. Ia harus bisa memberi manfaat bagi manusia,
binatang binatang, tumbuhan dan pohon pohon. Karena ketika wanita cantik
menuntut agar dirinya dicintai, wanita berguna justru berbagi dan memberi,
itulah hakekat kecantikan sesunggguhnya kata bulan. peri menatap wajah bulan
yang anggun. Ia bertanya apa yang harus ia lakukan agar menjadi cantik
sekaligus berguna? Bulan menjawabnya hanya dengan senyuman.
Kemudian ia membawa peri terbang ke
langit. Begitu sampai di pusat tata surya, ia meletakan sang peri di tangannya.
Bulan meminta peri menutup mata. Dengan sebuah tiupan ajaib yang mengeluarkan
sinar perak dari mulutnya, tubuh sang peri menjadi hangat karena diselimuti
sinar itu. Tak lama sekujur tubuhnya pun bergetar, berguncang guncang,
meregang. Lalu dalam hitungan detik wujudnya telah berubah menjadi bintang yang
bersinar sangat terang. Ialah bintang pertama yang lahir dalam sejarah tata
surya.
Sang peri bahagia, ia menari nari,
menyanyi, tertawa karena dirinya menjadi cantik. Ia berterimakasih atas
perubahan dirinya. Bulan kembali berkata, sekarang aku akan menunjukan cara
agar engkau menjadi lebih berguna bagi mahluk lain. Mulai saat ini bimbinglah
mahluk mahluk yang tersesat di bumi dengan cahayamu. Pandu mereka yang tersesat
dan tak dapat menemukan rumahnya, tunjukan sampan sampan nelayan yang
kehilangan arah pelayarannya, beritahu para pengembara yang sedang kebingungan
menentukan jalur pengembaraannya. Jadilah penunjuk jalan bagi siapapun yang
membutuhkan.
Mulai saat itu sang peri tinggal di
langit. Ia mengembara mencari mahluk mahluk yang tersesat dalam perjalanan
kemudian dengan cahayanya menunjukan mereka arah yang benar hingga sampai ke
tujuan. Suatu hari dilihatnya rombongan peri yang kelelahan di padang pasir
gersang. Ketika sadar mereka adalah teman temannya yang tersesat, mengedip
ngediplah ia dan menunjuk arah tenggara. Peri peri kaget, karena di langit
terdapat setitik cahaya terang yang sangat cantik. Atas petunjuk cahaya itu mereka
terbang kembali. Tak lama di hadapan mereka terhampar taman bunga yang luas.
Peri peri bersorak setelah berhasil menemukan rumah baru. Tak satupun dari
mereka tahu, kalau bintang cantik penunjuk jalan itu adalah salah satu dari
mereka yang telah mereka kucilkan dulu. Mereka hanya bisa terkesima, kagum dan
berharap dapat memiliki kecantikan seperti sang bintang. Tak ada yang tahu
rahasia ini kecuali angin. Dimana ia selalu menyaksikan bayangan sang bintang
yang kini berdampingan bersama bulan di atas permukaan telaga dengan segenap
rasa kagum yang melingkupi dadanya.
-Karya Suguh Kurniawan-
Sumber: https://uprint.id/blog/cerpen/
!doctype>
Popular Posts
-
1. Ipconfig sebenarnya fungsi dari Ipconfig ini banyak banget, tapi mayoritas orang menggunakannya untuk melihat ip address, Gateway, DNS ...
-
Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat kembali menunda sidang gugatan perdata polusi udara yang diajukan oleh Gerakan Inis...
-
Kriiing….kriiing , bel berbunyi tanda jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Anak-anak 9B sudah duduk rapi di bangku masing-ma...
-
Minggu, 22/09/2019 02:10 WIB Ilustrasi bersih-bersih pantai. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) Sekitar 14 ribu orang ikut serta dalam ...
-
Ciri – Ciri Cerpen Berikut ini adalah beberapa ciri dari cerpen: Jalan cerita yang dimiliki cerpen cenderung lebih singka...
-
Ilustrasi gempa. (Istockphoto/Petrovich9) Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika ( BMKG ) menyebut gempa dengan magnitu...
-
1. Kedudukan pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 dalam tertib hukum nasional Indonesia adalah sebagai? ...
-
RANGKUMAN A. Kondisi Geografis Benua Asia dan Benua Lainnya Pengertian benua dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia a...
Blogger templates
Blogroll
Copyright ©
LUTHFI 72 BLOG | Powered by Blogger
Design by Luthfi Flythemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com
